IHSG Anjlok 5%: Fundamental Bagus, Mengapa Bursa Ambruk?

IHSG anjlok

pancamerdeka.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkapar di level 7.904,52 pada perdagangan Senin pagi (2/2/2026) meski pemerintah menjamin fundamental ekonomi nasional tetap berada dalam kondisi prima. Penurunan tajam sebesar 5,07 persen ini memicu tanda tanya besar di kalangan investor mengenai stabilitas pasar modal pasca-pergantian pimpinan Bursa Efek Indonesia.

Sistem Otomatis BEI Tak Mampu Bendung Sentimen

Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menegaskan bahwa pergantian Direktur Utama BEI tidak akan menggoyang stabilitas pasar. Ia meyakini sistem internal bursa sudah dirancang sedemikian rupa untuk bekerja secara mandiri dan stabil dalam situasi apa pun.

Ada sistem otomatis yang langsung bisa menggantikan Dirut yang ada, dari direksi yang ada dengan cepat dan itu berjalan dengan baik,” ungkap Purbaya. Sayangnya, efektivitas sistem teknologi tersebut kini diuji oleh kenyataan pahit di lapangan saat IHSG anjlok secara drastis.

Pasar tampaknya tidak merespons aspek teknis operasional semata, melainkan lebih peka terhadap kepastian figur kepemimpinan. Gejolak yang terjadi sejak pembukaan perdagangan menunjukkan bahwa psikologi pasar sedang berada di titik nadir yang sangat mengkhawatirkan.

Baca Juga :  Komitmen Polri Jaga Integritas Pasar Modal: Skandal Narada Terbongkar

Sentimen jangka pendek yang memanas terbukti jauh lebih dominan dalam memengaruhi keputusan para pengelola dana. Meskipun sistem disebut berjalan lancar, tekanan jual yang muncul di layar perdagangan tidak dapat dibendung oleh narasi stabilitas birokrasi bursa.

Target Ekonomi 6 Persen vs Realitas Lantai Bursa

Di tengah kondisi pasar yang memerah, Menkeu Purbaya tetap optimistis bahwa fundamental makro Indonesia masih menjadi daya tarik utama bagi pemodal. Ia bahkan berani memproyeksikan angka pertumbuhan ekonomi yang sangat ambisius untuk tahun ini.

Tahun ini mungkin ekonominya bisa tumbuh, bisa saya dorong mendekati 6%,” jelas Purbaya saat menepis kekhawatiran bursa akan “kebakaran“. Namun, optimisme tinggi tersebut justru bertolak belakang dengan data RTI yang menunjukkan pelemahan meluas di seluruh sektor saham.

Sebanyak 731 saham tercatat rontok pada sesi pagi ini, mencerminkan hilangnya kepercayaan diri para pelaku pasar secara kolektif. Hanya 68 saham yang mampu bertahan dari koreksi, sementara 159 lainnya stagnan tanpa adanya gairah transaksi yang berarti.

Baca Juga :  Agrinas Nyatakan Siap Ikuti Arahan Pemerintah Terkait Pengadaan Mobil

Kesenjangan antara target pertumbuhan ekonomi dan pergerakan indeks hari ini memperlihatkan adanya disconnect antara kebijakan pemerintah dan persepsi risiko pasar. Investor seolah-olah mengabaikan klaim fundamental kuat dan lebih memilih mengamankan likuiditas mereka sesegera mungkin.

Volume Transaksi Tinggi Tandakan Kepanikan

Aktivitas di lantai bursa mencatatkan nilai transaksi yang luar biasa besar mencapai Rp16,29 triliun hingga menjelang siang hari. Volume perdagangan pun menembus angka 30,13 miliar lembar saham yang menunjukkan tingginya frekuensi keluar-masuknya modal.

Tingginya angka transaksi ini seringkali menjadi indikasi terjadinya panic selling yang dipicu oleh sentimen negatif yang beruntun. Fenomena IHSG anjlok ini memaksa para investor ritel maupun institusi untuk melakukan penyesuaian portofolio secara terburu-buru.

Mereka akan lihat ke fundamental, kan fundamental ekonominya bagus, saya perbaiki terus,” kata Purbaya sebelumnya mencoba menenangkan keadaan. Namun, selama sentimen ketidakpastian masih menggantung, perbaikan fundamental saja dirasa belum cukup untuk menarik minat beli kembali ke pasar.

Para analis kini memperingatkan otoritas pasar untuk segera memberikan sinyal intervensi yang konkret guna mencegah penurunan yang lebih dalam. Jika level dukungan saat ini ditembus, dikhawatirkan indeks akan mencari titik terendah baru yang lebih menyakitkan.

Baca Juga :  Visi Bank UMKM Purbaya: Wujudkan Kemandirian Ekonomi Rakyat Kecil

Koreksi tajam ini menjadi pengingat bagi otoritas bahwa narasi positif dari pemerintah tidak selalu manjur sebagai obat penenang pasar. Dinamika harga di bursa hari ini tetap ditentukan oleh hukum permintaan dan penawaran yang dipenuhi rasa cemas.