pancamerdeka.com — Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM, Hatma Suryatmojo, menegaskan kerusakan hutan di kawasan hulu menjadi faktor penentu banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025.
Dalam keterangan tertulis UGM, Rabu (3/12/2025), ia menjelaskan bahwa hujan ekstrem yang dipicu dinamika atmosfer dan pengaruh Siklon Tropis Senyar hanyalah pemicu awal. Faktor paling menentukan berada pada kondisi ekologis yang telah melemah akibat deforestasi berkepanjangan.
Ia menjabarkan bahwa kemampuan hutan menahan air melalui intersepsi, infiltrasi, dan penguapan alami runtuh ketika tutupan hutan menghilang. Tanah kehilangan daya serap. Limpasan permukaan meningkat. Ketika hujan lebih dari 300 milimeter per hari mengguyur kawasan utara Sumatera, benteng ekologis yang telah rapuh tidak mampu lagi menahan volume air tersebut.
“Perlindungan hulu adalah perlindungan bagi hilir. Ketika hulu rusak, dampaknya tak terhindarkan,” ujar Hatma.
Kerusakan hutan di tiga provinsi menunjukkan kecenderungan yang konsisten: Aceh kehilangan lebih dari 700 ribu hektare hutan sejak 1990; Sumatera Utara hanya menyisakan sekitar 29 persen tutupan hutan; Sumatera Barat kehilangan 740 ribu hektare dalam rentang 2001 hingga 2024, termasuk 32 ribu hektare pada tahun terakhir. Kondisi Ekosistem Batang Toru yang terdegradasi juga menjadi indikasi melemahnya benteng ekologis Sumut.
Hatma menilai bencana ini seharusnya menjadi momentum memperkuat perlindungan lingkungan melalui penegakan tata ruang, penghentian perusakan hutan, reforestasi, dan peningkatan sistem peringatan dini. “Tragedi ini harus menjadi titik balik menuju keseimbangan baru,” tegasnya.
