pancamerdeka.com—Sejarah Thoriqoh Shiddiqiyyah membentang panjang, dari peristiwa Isro’ Mi’roj pada masa Rasululloh SAW hingga kebangkitannya kembali di Nusantara pada abad ke-20. Ia membawa satu pesan utama: kejujuran sebagai fondasi peradaban.
Abu Bakar Ash-Shiddiq RA menjadi figur sentral lahirnya Shiddiqiyyah. Sikapnya yang membenarkan Isro’ Mi’roj tanpa ragu menegaskan bahwa iman sejati berpijak pada kepercayaan penuh kepada kebenaran Rasululloh.
Nilai inilah yang kemudian diwariskan lintas generasi dan mencapai masa keemasan pada era Syekh Abu Yazid Al-Busthomi. Di Iran dan Irak, Shiddiqiyyah menjadi arus utama spiritual yang membentuk karakter masyarakat.
Perubahan zaman membawa perubahan nama. Namun substansi ajaran tetap terjaga. Transformasi menjadi Thoifuriyyah, Khuwajikaniyyah, dan Naqsyabandiyyah menunjukkan daya adaptasi tasawuf terhadap konteks sosial.
Indonesia kemudian menjadi titik kebangkitan. Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi menghidupkan kembali Shiddiqiyyah dengan pendekatan membumi. Ajaran ini tidak hanya menguatkan iman, tetapi juga melahirkan institusi pendidikan dan sosial.
Dengan jutaan pengikut, Shiddiqiyyah hari ini menjadi contoh bahwa spiritualitas dapat berjalan seiring dengan pembangunan manusia dan kebangsaan.




