pancamerdeka.com — Lantunan Indonesia Raya tiga stanza membuka Haul ke-16 Presiden Keempat RI Abdurrahman Wahid di Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (20/12/2025) malam. Tayangan visual menampilkan keberagaman Nusantara, bencana alam, dan aktivitas pertambangan.
Pembukaan tersebut mempertegas tema haul “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat”. Alissa Wahid menilai ruang rakyat dalam demokrasi Indonesia kian terpinggirkan dari proses kebijakan.
Ia menyebut suara kritis masyarakat sering menghadapi tekanan, sementara sebagian elite kehilangan keteladanan. “Rakyat tidak lagi menjadi aktor utama,” kata Alissa, Sabtu (20/12/2025).
NU dan Etika Kekuasaan
Alissa menegaskan, Gus Dur tidak pernah memberikan keistimewaan politik maupun ekonomi kepada NU. Ia justru mengingatkan NU untuk terus kritis kepada penguasa.
Peringatan Gus Dur tentang NU yang “lupa kepada Allah” disebut Alissa sebagai refleksi moral agar organisasi tetap menjaga jarak sehat dari kekuasaan.
Warisan Keberpihakan
Nilai Gus Dur, menurut Alissa, relevan dengan persoalan Papua, petani, dan masyarakat adat. Gus Dur dikenal konsisten membela kelompok terpinggirkan dan menolak ketidakadilan pembangunan.***




