Ketegangan Internal PBNU: Surat Syuriyah, Isu Zionisme, dan Respons Ketua Umum

Gus Yahya

pancamerdeka.com — Dinamika internal PBNU kembali mencuat setelah surat Syuriyah yang mendesak pengunduran diri KH Yahya Cholil Staquf beredar Kamis (20/11/2025). Dokumen resmi bertanggal 20 November 2025 itu ditandatangani Rais Aam KH Miftachul Akhyar.

Rapat Harian Syuriyah di Jakarta dihadiri mayoritas pengurus—37 dari total 53. Dari sudut pandang tata organisasi besar seperti NU, komposisi kehadiran menunjukkan tingkat legitimasi deliberatif yang cukup signifikan.

Tangkapan layar Surat Keputusan Rois Syuriah PBNU. - Istimewa
Tangkapan layar Surat Keputusan Rois Syuriah PBNU. – Istimewa

Poin pertama risalah menyoroti pemilihan narasumber AKN NU yang dianggap terkait jaringan Zionisme Internasional. Dalam konteks global, isu Zionisme sering menjadi sumber sensitivitas organisasi keagamaan di banyak negara.

Poin kedua membahas pemberhentian fungsionaris yang dianggap melanggar peraturan perkumpulan. Secara tata kelola, mekanisme sanksi internal penting untuk menjaga integritas lembaga.

Poin ketiga mencatat dugaan pelanggaran finansial yang dinilai dapat membahayakan keberlanjutan badan hukum. Dalam organisasi besar, tata kelola keuangan selalu menjadi parameter stabilitas.

Seorang pengurus PBNU mengonfirmasi keaslian surat. “Benar. Tadi malam,” katanya (21/11).

Baca Juga :  Ibadah Tenang dan Aman, Pemerintah Pastikan Layanan Haji 2026 Lebih Teratur

Di sisi lain, ketika menghadiri Munas XI MUI di Ancol, Yahya menegaskan pertemuannya dengan Wakil Rais Aam KH Afifuddin Muhajir tidak membahas isu pemakzulan. Ia menjelaskan agenda diskusi terkait tapak tilas KHR As’ad Syamsul Arifin. (*)