Friksi Elite PBNU Terlokalisasi di Pusat, Struktur NU Daerah Tetap Berjalan

Pengurus besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Istighosah Kubro, 21 Oktober 2024 Foto: Dok. PBNU

pancamerdeka.com — Gejolak PBNU dipandang sebagai dinamika elite yang tidak merembet ke akar rumput. Pengamat politik UNIS, Adib Miftahul, menyatakan pola seperti ini lazim terjadi pada organisasi besar di berbagai negara. “Kisruh di PBNU ini tidak signifikan mempengaruhi akar rumput,” kata Adib, Senin (24/11/2025).

Adib menjelaskan keterlibatan PBNU dalam politik praktis memperbesar potensi faksi, fenomena yang juga terlihat dalam banyak organisasi sosial-keagamaan di kawasan Asia Tenggara. Ia menilai posisi PBNU saat ini memiliki daya pengaruh setara aktor politik besar. “PBNU malah lebih seksi daripada partai politik sebagai penggedor suara,” ujarnya.

Di tingkat daerah, struktur organisasi mempertahankan stabilitas. Ketua PCNU Tulungagung, KH Bagus Ahmadi, mengatakan seluruh cabang mengikuti rapat daring pada Ahad (23/11) bersama Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf untuk menyimak perkembangan setelah Syuriah mengajukan permintaan mundur pada 20 November 2025. “Kami belum menerima keputusan final,” ujarnya.

Bagus memastikan aktivitas PCNU hingga ranting tetap berjalan normal. Langkah itu ditempuh agar warga Nahdliyin tetap tenang dan fokus pada kegiatan sosial-keagamaan. Sementara itu, Gus Yahya menyatakan tidak akan mundur dan menegaskan kepengurusan tetap bekerja hingga akhir masa khidmat setelah berkonsultasi dengan para kiai sepuh pada Ahad malam (23/11). (*)

Baca Juga :  Din dan Savic Ajak NU–Muhammadiyah Tinjau WIUP demi Stabilitas dan Keselamatan Lingkungan