Borobudur: Persilangan Matematika, Sejarah, dan Kebudayaan Global

Borobudur

pancamerdeka.com — Riset terbaru menunjukkan bahwa Borobudur mengintegrasikan geometri presisi yang relevan dalam konteks pengetahuan lokal dan global.

Candi Borobudur terus membuka ruang interpretasi lintas disiplin. Dengan ukuran 42 meter dan 123 meter yang mendekati Golden Ratio, bangunan abad ke-8 ini memperlihatkan bagaimana estetika universal hadir dalam arsitektur Nusantara tanpa terpaku pada sumber asing mana pun.

Penelitian Rahmi Nur Fitria Utami dan tim (2020) membuktikan penggunaan bangun dasar—lingkaran, persegi, segitiga—dipadukan dengan struktur tiga dimensi seperti balok, kubus, dan kerucut pada stupa. Pendekatan geometris ini mencerminkan kemampuan teknis sekaligus kepekaan budaya masyarakat Jawa Kuna.

Bandung Fe Institute melihat pola fraktal pada struktur stupa Borobudur, sejalan dengan diskursus matematika modern tentang self-similarity. Meski terminologinya baru muncul berabad-abad kemudian, pola pikir semacam itu terbukti sudah terintegrasi dalam arsitektur Nusantara.

Penelitian Alex Wayman (1982) menunjukkan bahwa dari perspektif atas, Borobudur membentuk mandala Dharmadhatu dan Wajradhatu—konsep kosmologi yang ditemukan di berbagai budaya Asia. Hal ini menegaskan dialog antara tradisi lokal dan wacana global.

Baca Juga :  Memulihkan Senyum Anak Bangsa: Tegakkan Keadilan bagi Korban Little Aresha

Temuan rasio 9:6:4 oleh Parmono Atmadi dan model fraktal Hokky Situngkir memperkaya pemahaman bahwa Borobudur adalah ruang simultan antara spiritualitas, geometri, dan estetika.

Dalam konteks Indonesia masa kini, Borobudur memberi contoh bagaimana integrasi ilmu, budaya, dan peradaban dapat menghasilkan karya yang bertahan lintas zaman.(*)