Uwi dan Jejak Pangan Lestari Jawa Kuno

Uwi Ungu

pancamerdeka.com — Sebelum beras menguasai sistem pangan nasional, masyarakat Jawa membangun peradaban pangan yang berakar pada uwi dan umbi-umbian sebagai sumber energi utama yang selaras dengan lingkungan.

Uwi tumbuh di ladang kering, kebun campur, dan tegalan tanpa menuntut infrastruktur besar. Pola ini mencerminkan kearifan ekologis yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Diversifikasi pangan menjadi kekuatan utama masyarakat Jawa kuno.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa sawah irigasi memang berkembang pada masa kerajaan agraris. Namun beras kala itu memiliki fungsi simbolik dan administratif, bukan pangan harian mayoritas rakyat. Umbi-umbian tetap menjadi sumber utama konsumsi rumah tangga.

Perubahan terjadi ketika penjajahan Belanda menata ulang sistem pertanian Jawa. Padi diangkat sebagai komoditas unggulan untuk kepentingan ekonomi dan logistik. Perlahan, kebun campur digeser oleh sawah monokultur.

Narasi kemajuan turut membentuk preferensi konsumsi. Nasi diposisikan sebagai tanda peradaban, sementara pangan umbi dilekatkan pada kemiskinan. Proses ini berlangsung lintas generasi dan meninggalkan jejak panjang dalam budaya makan.

Baca Juga :  Koperasi Merah Putih Dapat 58 Persen Dana Desa 2026

Setelah kemerdekaan, kebijakan pangan nasional meneruskan orientasi beras demi stabilitas. Program swasembada memperkuat ketergantungan pada satu komoditas, sementara umbi-umbian kehilangan ruang dalam kebijakan dan pendidikan pangan.

Di tingkat global, uwi justru mengalami kebangkitan. Negara-negara lain mengembangkannya sebagai pangan utama dan bahan industri karena ketahanannya terhadap krisis iklim. Data ini menunjukkan potensi yang belum dimanfaatkan di tanah asalnya.

Hilangnya uwi dari meja makan Jawa tidak terjadi secara alami. Ia merupakan hasil kebijakan panjang yang mengabaikan keragaman pangan. Padahal, pengalaman sejarah membuktikan bahwa ketahanan dibangun dari keberagaman.

Membaca kembali jejak uwi berarti membuka arsip kearifan lama yang relevan dengan tantangan hari ini. Di tengah tekanan pangan global, pengalaman Jawa kuno menawarkan pelajaran tentang ketahanan yang berakar pada alam dan pengetahuan lokal.***