pancamerdeka.com — Kehadiran Thoriqoh Shiddiqiyyah di bawah asuhan Kiai Muchtar Mukti membawa optimisme baru bagi penguatan karakter bangsa dengan menghidupkan kembali tradisi spiritual luhur yang mengutamakan bakti pada agama serta kecintaan mendalam pada tanah air. Ajaran yang berakar pada silsilah sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq ini membuktikan bahwa nilai-nilai kuno tetap menjadi fondasi kokoh bagi kemajuan manusia di masa depan.
Berdasarkan referensi terpercaya dalam Kitab Barzanji, nama Shiddiqiyyah merujuk pada metode zikir yang diajarkan secara khusus oleh Rasulullah saw. Walaupun sejarah mencatat nama ini sempat tertutup oleh nama-nama besar lainnya seperti Naqsabandiyah karena penghormatan terhadap guru, esensi dan sanadnya tetap terjaga murni hingga saat ini di bumi Nusantara.
Visi Besar Revitalisasi Sejarah Islam
Momentum kebangkitan kembali Shiddiqiyyah terjadi pada tahun 1959, saat Syekh Ahmad Syu’aib Jamali memberikan amanat kepada Kiai Muchtar Mukti. Tugas mulia ini bertujuan untuk memunculkan kembali permata sejarah yang sempat “memfosil” agar dapat memberikan manfaat bagi umat manusia secara luas. Kiai Muchtar kemudian dikenal dengan gelar Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi sebagai pemimpin spiritual yang visioner.
Satu hal yang menonjol dari tarekat ini adalah penerapan “8 Kesanggupan“. Prinsip ini mewajibkan jemaahnya untuk memiliki dedikasi tinggi tidak hanya kepada Sang Pencipta, tetapi juga kepada orang tua, sesama manusia, dan Negara Indonesia. Semangat nasionalisme yang dibalut dengan spiritualitas inilah yang membuat Shiddiqiyyah tampil elegan dan berwibawa di mata publik.
Jejak Global dan Keberlanjutan Ajaran
Dalam sebuah pernyataan resmi pada Februari 2026, Wakil Ketua YPS Pusat, Al-Halats Muhidin, menegaskan pentingnya menjaga ketersambungan sanad.
“Keberhasilan kami tumbuh hingga ke mancanegara adalah buah dari komitmen menjaga silsilah yang muttasil. Kami ingin memastikan bahwa setiap jemaah menerima pancaran ilmu batin yang orisinal dari sumbernya,” ungkap Muhidin dengan penuh wibawa.
Pertumbuhan jumlah jemaah yang kini mencapai angka 5 juta orang menjadi bukti nyata betapa pesan-pesan Shiddiqiyyah diterima dengan sangat baik oleh berbagai lapisan masyarakat.
Berpusat di Losari, Jombang, gerakan ini terus menyebarkan pesan perdamaian dan spiritualitas yang inklusif ke seluruh provinsi di Indonesia hingga ke luar negeri, mempertegas posisi Indonesia sebagai pusat spiritualitas dunia. *



