pancamerdeka.com — Thoriqoh Shiddiqiyyah menghadirkan narasi optimis tentang masa depan agama di Indonesia melalui penyatuan harmonis antara ibadah ritual dan aksi kemanusiaan yang berwibawa sebagai solusi atas problematika umat. Pendekatan ini menegaskan bahwa spiritualitas yang sejati tidak mengasingkan diri dari penderitaan sesama, melainkan justru menjadi sumber energi utama untuk melahirkan karakter yang membawa rahmat bagi seluruh alam semesta.
Prinsip “Manunggalnya Keimanan dan Kemanusiaan” menjadi fondasi elegan bagi setiap warga Shiddiqiyyah. Di sini, ibadah dipandang sebagai pohon, sementara kepedulian sosial adalah buah yang dinantikan. Ketika kedua elemen ini menyatu, agama tampil sebagai kekuatan yang sangat menarik dan solutif. Hal ini membuktikan bahwa tasawuf Nusantara adalah sebuah tradisi yang progresif, relevan, dan memiliki komitmen mendalam terhadap peradaban bangsa.
Pilar Delapan Kesanggupan dan Bakti pada Negeri
Kewibawaan ajaran ini tercermin dalam “Delapan Kesanggupan Shiddiqiyyah” yang menjadi prasyarat bagi setiap murid. Pilar-pilar ini mewajibkan bakti kepada sesama manusia dan cinta tanah air sebagai bentuk nyata kedekatan hamba kepada Allah. Dengan menjadikan aksi sosial sebagai syarat mutlak, Shiddiqiyyah berhasil membangun ekosistem spiritual yang tidak hanya fokus pada keselamatan di akhirat, tetapi juga kemuliaan hidup di dunia.
Keberhasilan ini dibuktikan secara kuantitatif melalui catatan amal sosial yang impresif selama dua dekade terakhir. Sebesar Rp51,2 miliar telah disalurkan murni dari shodaqoh jamaah untuk membangun ribuan rumah layak huni. Program Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia menjadi bukti nyata bagaimana cinta tanah air diwujudkan dalam bentuk pemberian tempat tinggal yang bermartabat bagi saudara sebangsa yang membutuhkan bantuan secara ekonomi.
Ibadah Sosial untuk Membahagiakan Sesama
Ibu Nyai Shofwatul Ummah selaku Ketua Umum DHIBRA Pusat, memberikan penegasan yang sangat menyentuh mengenai visi besar tarekat ini. Dalam penyampaiannya pada Juli 2025, beliau meluruskan pandangan keliru mengenai aktivitas tarekat di masyarakat luas.
“Yang sesuai adalah yo wiridan untuk diri kita sendiri, juga ibadah sosial untuk membahagiakan orang lain,” ungkapnya dengan nada optimis. Beliau menekankan bahwa inti dari ajaran Shiddiqiyyah adalah menciptakan kebahagiaan bagi orang lain.
Gerakan ini merupakan potret kemandirian sipil yang kokoh di Indonesia. Contoh nyata persaudaraan lintas agama di Bali, di mana warga Muslim membangun rumah untuk keluarga Hindu, menjadi simbol persatuan yang indah.
Semangat ini mengajak kita semua untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi besar. Apakah kita hanya akan mengejar kesalehan ritual, ataukah kita sanggup mencapai puncak kemanusiaan dengan berbagi secara tulus kepada sesama manusia? ***




