pancamerdeka.com — Polemik internal PBNU memasuki fase kritis setelah Ketum Yahya Cholil Staquf menilai Syuriah melakukan manuver sepihak menjelang Muktamar 2026. Dalam forum daring, Sabtu (22/11/2025), ia menyebut keputusan tersebut tidak melalui proses deliberatif sebagaimana standar organisasi besar dengan pengaruh sosial-historis seperti NU.
Pernyataan Rais Aam KH Miftachul Akhyar dalam risalah rapat Syuriah tertanggal 20 November 2025 menjadi sorotan, terutama karena rapat berlangsung tertutup dan hanya beragenda membahas pemberhentian Ketua Umum. Situasi ini mengingatkan pada dinamika organisasi keagamaan global yang kerap bergulat dengan transisi kepemimpinan jelang forum permusyawaratan besar.
“Jika pemberhentian bisa ditempuh sepihak, struktur organisasi dari pusat hingga ranting dapat terguncang,” kata Gus Yahya, menegaskan kekhawatiran atas potensi kerusakan kelembagaan.
Pengurus pusat yang mendampinginya turut menggarisbawahi pentingnya kesinambungan agenda transformasi yang berjalan empat tahun terakhir. Mereka menilai stabilitas organisasi menjadi faktor penentu efektivitas kontribusi NU dalam isu-isu nasional dan global.
Pakar menilai dinamika PBNU saat ini mencerminkan pola umum organisasi besar yang tengah memasuki siklus suksesi. Sejauh mana konsolidasi berhasil akan menentukan arah NU ke depan, baik secara nasional maupun dalam reputasinya di kancah internasional. (*)




