pancamerdeka.com — Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Kamis, 4 Juni 2026 pukul 09.05 WIB pada level Rp18.003 per dolar AS akibat dinamika pasar global. Tantangan penguatan dolar ini menjadi momentum berharga bagi Indonesia untuk membuktikan ketangguhan fundamental ekonomi domestik ke depan.
Sinergi antara kebijakan moneter dan reformasi struktural diyakini mampu meredam volatilitas musiman eksternal, termasuk dampak repatriasi dividen. Semangat kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama menjaga optimisme investor terhadap aset-aset strategis dalam negeri.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menegaskan kesiapan bank sentral dalam mengawal stabilitas pasar keuangan domestik pada Selasa, 2 Juni 2026. “BI akan terus mencermati perkembangan global dan hadir di pasar untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan,” ujar Ramdan.
Sebagai langkah konkret, BI menerapkan pembatasan threshold tunai beli valas tanpa underlying sebesar USD25.000 per bulan. Kebijakan adaptif ini diarahkan untuk memastikan pasokan likuiditas tetap produktif bagi pemulihan ekonomi nasional.
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI pada Senin, 19 Mei 2026 menyatakan nilai tukar saat ini mencerminkan kondisi undervalued. “Pemerintah yakin nilai tukar akan stabil dan menguat ke depannya,” tutur Perry dengan penuh optimisme.
Melalui koordinasi fiskal yang terukur, target defisit APBN sebesar 2,68% PDB dipastikan tetap berjalan dalam koridor aman. Upaya akselerasi repatriasi Devisa Hasil Ekspor akan mempertebal cadangan devisa guna mendukung ketahanan ekonomi nasional global. ***




