pancamerdeka.com — Ideologi asing dalam pendidikan bekerja tidak dengan paksaan, melainkan melalui pembentukan cara berpikir dan standar pengetahuan yang diterima sebagai sesuatu yang wajar di sekolah.
Sejumlah kajian menyebut sekolah sebagai medium paling efektif bagi kerja ideologi. Proses ini berlangsung sejak usia dini dan berulang setiap hari, sehingga diterima sebagai rutinitas yang jarang dipertanyakan.
Dalam teori hegemoni, Antonio Gramsci menjelaskan bahwa dominasi paling kuat terjadi ketika nilai tertentu diterima sebagai akal sehat bersama. Ideologi tidak dipaksakan, tetapi diserap secara sukarela.
Pandangan ini dipertegas oleh Louis Althusser, yang melihat sekolah sebagai aparatus ideologis negara. Melalui pendidikan, kesadaran warga dibentuk jauh sebelum individu terlibat dalam ruang politik.
Jejak Kolonial dan Transformasi Modern
Di Indonesia, desain pendidikan modern tidak dapat dilepaskan dari warisan kolonial. Sekolah pada masa Hindia Belanda diarahkan untuk mencetak tenaga administrasi yang patuh.
Rekomendasi Snouck Hurgronje mendorong pemisahan Islam dari ranah sosial-politik serta penghilangan nilai budaya lokal dalam pendidikan formal. Ilmu Barat diposisikan sebagai ukuran rasionalitas.
Pasca-kemerdekaan, struktur ini tidak sepenuhnya hilang. Ia bertransformasi mengikuti arus globalisasi, hadir dalam bentuk universalisme pengetahuan.
Tantangan Kedaulatan Berpikir
Akademisi Henry A. Giroux menegaskan bahwa pendidikan tidak pernah netral. Ketika satu kerangka berpikir dianggap universal, pengalaman historis bangsa sendiri terpinggirkan.
Orientasi pendidikan yang menempatkan manusia sebagai sumber daya ekonomi juga menuai kritik. Paulo Freire menilai pendekatan ini melemahkan kesadaran kritis dan etika sosial.
Sejumlah akademisi menyebut pendidikan Indonesia kini berada pada titik penting. Tantangannya adalah menjaga keterbukaan global sekaligus memulihkan pendidikan sebagai ruang pembentukan manusia merdeka dan berdaulat secara berpikir.***




