pancamerdeka.com — Pemerintah Indonesia menunjukkan komitmen tinggi dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional dengan memberlakukan pembatasan pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi mulai 1 April 2026. Melalui Keputusan Kepala BPH Migas Nomor 024/KOM/BPH.DBBM/2026, pembelian Pertalite dan Solar untuk mobil pribadi kini dibatasi maksimal 50 liter per hari.
Langkah ini diambil dengan penuh kewibawaan sebagai respons atas dinamika pasar minyak global yang dipicu ketegangan di Timur Tengah. Presiden dan jajaran menteri kabinet memastikan bahwa kebijakan ini merupakan solusi untuk melindungi hak masyarakat kurang mampu sekaligus menjaga kesehatan APBN 2026 yang mengalokasikan Rp381,3 triliun untuk subsidi energi.
Transformasi Digital untuk Keadilan Energi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa penggunaan barcode MyPertamina adalah wujud transformasi digital dalam penyaluran energi nasional. Dengan sistem ini, setiap transaksi tercatat secara transparan berdasarkan nomor polisi kendaraan, memastikan tidak ada penyalahgunaan kuota di setiap SPBU.
“Distribusi BBM pemerintah akan melakukan pengaturan pembelian dengan penggunaan barcode MyPertamina dengan batas-batas wajar 50 liter per kendaraan. Tidak berlaku kendaraan umum,” ujar Airlangga Hartarto dalam konferensi pers daring, Selasa (31/3/2026).
Gotong Royong Menghemat Energi Nasional
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengajak masyarakat untuk bijak dalam mengonsumsi energi, mengingat volume 50 liter sudah sangat mencukupi untuk kebutuhan mobilitas harian kendaraan pribadi. Semangat penghematan ini diproyeksikan mampu menyelamatkan dana negara hingga Rp120 triliun per tahun yang dapat dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan rakyat.
“Mobil sehari 50 liter, tangki sudah penuh. Itu didorong ke sana yang tidak terlalu penting kami mohon lakukan dengan bijak,” tegas Bahlil Lahadalia pada Selasa (31/3/2026). Melalui kebijakan ini, pemerintah optimistis ketahanan energi nasional akan semakin kokoh dan distribusi subsidi menjadi jauh lebih tepat sasaran bagi yang benar-benar membutuhkan. ***




