Mengurai Peran Holland Taylor dan Tantangan Kewaspadaan Ormas di Era Global

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (tengah) diapit C. Holland Taylor dari CSCV (kiri) dan Syekh Abdurrahman al-Khayyat, Ketua Liga Muslim Dunia untuk Asia Tenggara dan Australia (kanan), mengeluarkan Komunike R20 di Hotel Hyatt Regency, Yogyakarta, Jumat, 4 November 2022). – Istimewa

pancamerdeka.com — Keputusan Rais Aam PBNU mencabut penunjukan Holland Taylor sebagai penasihat khusus memunculkan diskusi lebih luas tentang bagaimana ormas besar di Indonesia menghadapi dinamika global.

Taylor bukan sosok acak. Ia berada dalam orbit tokoh NU sejak awal 2000-an melalui LibForAll Foundation yang ia dirikan bersama Gus Dur. Kemudian pada 2009 hadir kembali dalam IIQS bersama nama-nama besar seperti Gus Mus dan A. Syafii Maarif.

Arsip Wikileaks tentang peran Taylor dalam perjalanan tokoh Islam Indonesia ke Israel tahun 2008 memperkuat sensitivitas publik. Dalam studi regional, hubungan keagamaan lintas batas memang lazim, namun ekosistem politik Indonesia sering membaca Israel melalui lensa konflik.

CSCV, lembaga yang dipimpin Taylor, turut berperan dalam forum internasional seperti R20 pada 2022–2023. Jejak pengaruh ini menunjukkan bagaimana aktor global dapat masuk melalui jalur diplomasi kultural.

Menanggapi polemik, KH Yahya Cholil Staquf menegaskan dirinya tidak memiliki afiliasi Zionis dan kunjungannya ke Israel pada 2018 dilakukan untuk kepentingan Palestina. (*)

Baca Juga :  Kiai Said Ajak PBNU Menjaga Marwah dengan Kembalikan Konsesi Tambang