Keteguhan Bangsa Iran Pasca-Syahidnya Ali Larijani di Tehran

Ali Larijani

PancaMerdeka.com — Republik Islam Iran kini tengah dirundung duka yang mendalam setelah tokoh bangsa yang berwibawa, Ali Larijani, dikonfirmasi syahid dalam serangan udara Israel di Tehran.

Peristiwa ini menjadi catatan sejarah atas pengabdian tanpa henti Larijani, yang selama puluhan tahun menjadi pilar kebijaksanaan dalam sistem politik Iran. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) memberikan penghormatan terakhir melalui kantor berita Mehr pada Rabu, 18 Maret 2026 dini hari.

“Setelah seumur hidup berjuang demi kejayaan Iran dan Revolusi Islam, ia akhirnya menjawab panggilan kebenaran dan dengan bangga mencapai derajat martir,” tulis SNSC dalam pernyataan resminya. Kepergian Larijani terjadi dalam rentetan serangan yang juga merenggut nyawa Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani, Komandan Organisasi Basij, pada Senin malam sebelumnya.

Dedikasi dan Warisan Kepemimpinan

Ali Larijani dikenal dunia internasional sebagai sosok cerdas yang pernah memimpin Parlemen Iran selama 12 tahun. Sebagai negosiator nuklir yang ulung, ia selalu mengedepankan martabat bangsa dalam setiap meja perundingan, termasuk perannya dalam perjanjian JCPOA 2015.

Baca Juga :  Trump Abaikan Hukum Internasional demi Kepentingan Amerika

Kewibawaannya tetap tampak hingga akhir hayat, di mana pada 13 Maret 2026, ia masih turun ke jalan bersama rakyat Tehran untuk memperingati Hari al-Quds. Meski di bawah ancaman pemboman, Larijani tetap berdiri tegak memproyeksikan citra ketangguhan bagi seluruh dunia.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Selasa, 17 Maret 2026, mengakui bahwa Larijani adalah sosok kunci yang dieliminasi. Namun, bagi rakyat Iran, kepergiannya justru menjadi api semangat baru untuk mempertahankan kedaulatan negara dari agresi asing.

Simbol Perlawanan yang Tak Padam

Di sisi lain, syahidnya Jenderal Gholamreza Soleimani juga meninggalkan duka bagi keluarga besar Basij. Media resmi Basij pada 18 Maret 2026 menyatakan bahwa mereka telah kehilangan pilar inspiratif yang selalu membimbing dengan semangat jihad yang kuat.

“Kami kehilangan pemimpin lapangan yang membimbing berbagai lapisan Basij dengan keyakinan kuat pada peran rakyat,” tulis pernyataan tersebut. Meski kepemimpinan berganti, struktur organisasi paramiliter ini dipastikan tetap solid dalam menjaga keamanan internal Iran.

Kini, meskipun Iran kehilangan dua putra terbaiknya, semangat persatuan nasional justru semakin mengental. Bangsa Iran membuktikan bahwa martabat tidak bisa dibeli dengan ancaman, dan setiap darah yang tumpah akan menjadi benih bagi ketahanan nasional yang lebih kokoh di masa depan. ***

Baca Juga :  Menjaga Asa Perdamaian di Tengah Ujian Keyakinan di Lebanon