Merajut Memori Bangsa Melalui 10 Jilid Sejarah Indonesia Terbaru

Fadli Zon

pancamerdeka.com — Bangsa Indonesia menyambut kehadiran mahakarya literatur terbaru berupa 10 jilid buku sejarah nasional yang merangkum perjalanan panjang peradaban nusantara dari akar purba hingga era demokrasi modern.

Kementerian Kebudayaan menjadwalkan akses publik untuk karya setebal 7.958 halaman ini pada akhir April 2026 sebagai upaya membangun fondasi identitas nasional yang lebih kokoh bagi generasi emas mendatang.

Meskipun diwarnai diskusi yang dinamis di ruang publik, kehadiran buku ini merupakan wujud nyata komitmen negara dalam memfasilitasi pendokumentasian sejarah bangsa secara komprehensif setelah lebih dari dua dekade.

Visi besar ini diharapkan mampu menginspirasi rakyat untuk melihat masa lalu sebagai cermin pembelajaran yang berharga demi melangkah maju menuju masa depan Indonesia yang lebih gemilang.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan bahwa penulisan sejarah kali ini mengedepankan nada yang positif guna merawat memori kolektif yang mampu membangkitkan rasa cinta tanah air.

Mulai dari kejayaan maritim di jilid awal hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan, buku ini disusun untuk menunjukkan ketangguhan bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan global.

Baca Juga :  BINLAT Kediri Dorong Pemuda Siap 2045

“Tone yang kita inginkan dari sejarah kita itu adalah tone yang positif, dari era Bung Karno sampai era Presiden Jokowi dan seterusnya,” ujar Fadli Zon saat memberikan keterangan di Cibubur, Jawa Barat.

Penyusunan yang melibatkan 123 penulis dari puluhan perguruan tinggi ini menjadi simbol kolaborasi intelektual dalam menyajikan narasi kebangsaan yang berwibawa dan penuh makna.

Bersamaan dengan peluncuran buku ini, pemerintah secara resmi menetapkan tanggal 14 Desember sebagai Hari Sejarah Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap integritas keilmuan sejarah di tanah air.

Langkah ini diambil untuk mendorong minat generasi muda dalam mempelajari jati diri mereka dan menghargai jasa para pahlawan yang telah meletakkan batu pertama pembangunan negara.

“Ketika kita menulis fakta peristiwa apa adanya, itulah yang namanya tone positif bagi pembangunan karakter bangsa,” tutur Menteri HAM Natalius Pigai saat memberikan dukungannya di Jakarta.

Semangat keterbukaan dalam menyusun karya ini menjadi bukti bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang berani menatap sejarahnya sendiri dengan penuh martabat dan optimisme. ***

Baca Juga :  Revitalisasi atau Legitimasi: Tafsir Publik atas Penunjukan Tedjowulan oleh Pemerintah