Perang Terbuka Pakistan-Afghanistan: Keprihatinan Global Meningkat

Perang Pakistan Afganistan

pancamerdeka.com — Stabilitas kawasan Asia Selatan kini berada dalam ancaman serius setelah Pakistan mengumumkan status “perang terbuka” terhadap pemerintah Taliban Afghanistan pada Jumat (27/2/2026). Pengumuman ini menyusul pertempuran hebat di sepanjang Garis Durand dan serangan udara Pakistan ke wilayah Kandahar serta Paktika yang memicu reaksi keras dari pemerintah di Kabul.

Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menyatakan bahwa Islamabad telah mencapai titik jenuh dalam menghadapi infiltrasi dan aksi terorisme yang dituduhkan berasal dari wilayah Afghanistan. Keputusan untuk bertindak secara militer diambil setelah upaya diplomasi dianggap tidak membuahkan hasil nyata bagi keamanan nasional Pakistan.

Seruan Perdamaian dari Komunitas Internasional

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, melalui juru bicaranya Stephane Dujarric, menyatakan keprihatinan mendalam dan mendesak kedua negara mematuhi hukum humaniter internasional. “Guterres mendesak kedua negara untuk mematuhi sepenuhnya kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional,” tulis pernyataan resmi PBB yang dirilis segera setelah konflik pecah.

Pesan serupa disampaikan oleh China dan Rusia yang menawarkan peran sebagai mediator. China melalui juru bicara Mao Ning menegaskan kesediaannya untuk membantu meredakan situasi, sementara Iran menyoroti momentum bulan suci Ramadan sebagai waktu yang tepat bagi kedua negara Muslim tersebut untuk mempraktikkan pengendalian diri dan dialog konstruktif.

Baca Juga :  AS dan Israel Luncurkan Operasi Tempur Gabungan di Jantung Iran

Keteguhan Afghanistan Membela Kedaulatan

Di pihak lain, mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam terhadap agresi militer Pakistan. Karzai menyerukan persatuan nasional rakyat Afghanistan untuk mempertahankan tanah air dan mendesak Pakistan mengubah paradigma kebijakannya yang selama ini dinilai destruktif bagi hubungan bertetangga.

Data korban masih simpang siur dengan Pakistan mengeklaim 133 pejuang lawan tewas, sedangkan Taliban mengklaim telah membunuh 55 tentara Pakistan. Di tengah klaim militer yang masif, prioritas utama dunia saat ini adalah mencegah jatuhnya korban sipil dan mengembalikan kedua pihak ke meja perundingan guna menghindari perang yang lebih luas di kawasan tersebut. ***