pancamerdeka.com – Penanganan banjir di Aceh memperlihatkan pola respons cepat yang selaras dengan standar penanganan bencana global. BGN Aceh mencatat 52 SPPG mendistribusikan 185.049 paket makan bergizi hingga Sabtu (29/11).
Kepala Regional BGN Aceh, Mustafa Kamal, menyampaikan laporan resmi Sabtu. “Sebanyak 52 SPPG telah menyalurkan 185.049 paket MBG kepada korban banjir di 11 kabupaten/kota,” katanya.
Distribusi terbesar terjadi di Bireun dengan 101.817 paket. Wilayah lain mendapat dukungan masing-masing: Pidie 3.202 paket, Aceh Tengah 772, Aceh Utara 7.949, Lhokseumawe 7.700, dan Subulussalam 8.115.
Namun sejumlah wilayah masih terisolasi. Akses ke Pidie Jaya, Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, dan Bener Meriah belum pulih. Situasi ini umum dalam bencana besar, serupa laporan-laporan di negara lain ketika infrastruktur dasar lumpuh.
BGN mengalihkan fungsi dapur MBG karena sekolah diliburkan. Pendekatan ini sejalan dengan praktik di negara-negara dengan sistem gizi publik kuat, di mana fasilitas pendidikan kerap berubah fungsi saat darurat.
Instruksi percepatan dari Presiden RI Prabowo Subianto menunjukkan pentingnya koordinasi nasional dalam mitigasi bencana. Kehadiran komando pusat sering terbukti mempercepat pemulihan, sebagaimana tercatat dalam standar ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance (AHA Centre).
Distribusi pangan bergizi di fase awal bencana dinilai krusial. Kelompok rentan seperti anak dan lansia biasanya mengalami risiko penurunan nutrisi paling cepat. Aceh pernah menghadapi situasi serupa pada bencana masa lalu, sehingga infrastruktur respons kini lebih siap.
Dalam kacamata regional, penanganan gizi darurat Indonesia semakin mendekati praktik negara-negara dengan kapasitas logistik matang. Transparansi data yang disampaikan BGN memperkuat akuntabilitas publik.
Pemulihan jalur akses menjadi tantangan utama. Begitu jalur terbuka, distribusi lanjutan dapat dilakukan. Keterhubungan data antarwilayah memberi gambaran yang lebih komprehensif mengenai kebutuhan riil.
Respons ini menunjukkan bagaimana pendekatan multidisiplin—gizi, logistik, infrastruktur, dan koordinasi pusat-daerah—menjadi fondasi penanganan bencana modern. (*)




